Sekarang Peserta Didik Harus Bervokasional
Dalam iklan layanan masyarakat baik di layar televisi maupun media cetak, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional sangat aktif mengampanyekan pentingnya penguasaan keterampilan vokasional melalui jargon SMK Bisa! Mengapa penguasaan keterampilan vokasional begitu penting dewasa ini sehingga ada anjuran dari pemerintah kepada masyarakat untuk menyekolahkan siswa lulusan SMP dan madrasah tsanawiyah (MTs) ke jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK)?
Menurut Puskur Depdiknas (2007), keterampilan vokasional merupakan keterampilan membuat sebuah produk yang berkaitan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat. Bekal keterampilan vokasional seorang siswa diharapkan dapat digunakan untuk memperoleh pekerjaan sesuai bidang yang diminatinya. Misalnya kemampuan menyervis sepeda motor dapat digunakan sebagai modal kemampuan untuk bekerja di bidang otomotif, atau kemampuan menjahit atau bordir dapat dijadikan modal kemampuan untuk bekerja pada industri tekstil atau konveksi. Keterampilan vokasional sangat identik dengan SMK sehingga apabila suatu daerah dikategorikan berhasil mengembangkan pendidikan kejuruan dikatakan sebagai pelopor pendidikan vokasional.
Namun, tanggal 29 November s/d 1 Desember 2013 merupakan momen yang cukup berkesan sekaligus pembuktian bahwa keterampilan vokasional TIDAK HANYA identik dengan SMK, karena selama 3 hari tersebut telah terjadi perhelatan besar antar Madrasah Aliyah di seluruh indonesia dan MA Plus Keterampilan Al Irsyad menjadi salah satu peserta dalam kegiatan tersebut. Ada 9 kategori yang dikompetisikan pada kegiatan tersebut, dan MA Plus Keterampilan Al Irsyad masuk dalam kategori Madrasah Vokasional (Madrasah Model Berbasis Keterampilan), dan yang membuat kesan mendalam dari kegiatan tersebut adalah bahwa MA Plus Keterampilan Al Irsyad Gajah Demak dinobatkan sebagai Juara III Madrasah Award 2013 kategori Madrasah Vokasional. Dengan Penganugerahan ini, maka MA Plus Keterampilan Al Irsyad akan semakin siap untuk mengantarkan anak didiknya dalam menghadapi dunia kerja dan industri dengan sekian keahlian yang akan di bekalkan kepada peserta didiknya.
Arah kebijakan dan tujuan pendidikan kecakapan hidup di lingkungan pendidikan non formal dan informal (PNFI) adalah untuk mengakrabkan peserta didik dengan kehidupan nyata. Pendidikan vokasional yang berorientasi pada pembekalan kecakapan hidup merupakan bisnis inti dari pendidikan non formal. Penanaman penguasaan keterampilan vokasional memacu kreativitas dan mengembangkan pemahaman peran individu dalam kehidupan sosial.
Pendidikan vokasional merupakan penggabungan antara teori dan praktik secara seimbang dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya. Kurikulum dalam pendidikan vokasional, terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (apprenticeship of learning) pada kejuruan-kejuruan khusus (specific trades). Kelebihan pendidikan vokasional ini, antara lain, peserta didik secara langsung dapat mengembangkan keahliannya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan atau bidang tugas yang akan dihadapinya.
Sesungguhnya pendidikan keterampilan atau yang disebut pula sebagai pendidikan vokasional, saat ini diyakini mampu menjadi solusi dalam mengurangi angka pengangguran. Hal itu disebabkan, konsep pendidikannya lebih mengandalkan skill atau keterampilan dan bertujuan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, trampil, memiliki disiplin tinggi, dan berjiwa kewirausahawan.
Perbedaan utama antara pendidikan akademik dan vokasional terletak dalam keahlian yang dicapai lulusannya. Lulusan pendidikan akademik lebih berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan lulusan pendidikan vokasional lebih pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.
Untuk menghasilkan kulitas pendidikan seperti itu, seyogyanya tujuan pendidikan tidak hanya sebatas mengejar hasil. Tapi harus dititikberatkan menjadi target yang berguna dari hasil pendidikan itu sendiri. Salah satu caranya adalah melalui pendidikan yang membekali peserta didik dengan kemampuan vokasional. Dengan begitu, bukan hanya berbekal pengetahuan teori untuk bersaing dalam pasar kerja, namun lulusannya akan memiliki kompetensi vokasi yang berguna untuk menopang kecakapan hidup. (Khoerul Anam, S.Pd.)



Post A Comment
Tidak ada komentar :